11 Apr 2009 16:18
Wujudkan Hijau dalam Hatimu
Oleh: Muhammad Ramadhan Al Reno (SMAN 1 Jogja) pemenang pertama Lomba Karya Tulis 'Hutan Kota'Pemilihan Umum 2009 membuat heboh suasana politik nasional. Nah, jangan kalah! Kita pun juga bisa membikin keadaan lebih heboh. Eitt.., tunggu dulu, jangan salah paham dan jangan berhenti membaca artikel ini.
Ini bukan artikel politik dan tak membahas Pemilu, melainkan tentang jalan panjang demi kebaikan bumi dan khalifahnya yaitu kita, manusia. Nah, sebelum masuk pada topik utama, mari kita menyadari beberapa hal sederhana namun mengusik nurani.
Baru-baru ini telinga pendengar musik di Indonesia sedang dimanja oleh lagu-lagu Hijau Daun band. Respon positif dari masyarakat kian melambungkan nama mereka.Tunggu, lalu apa hubungannya dengan penghijauan? Begini, bila kita perhatikan, tak hanya lagu-lagunya saja faktor yang membuat mereka terkenal tapi nama Hijau Daun juga merupakan faktor penting suksesnya band itu. Coba kita renungkan, saat mendengar Hijau Daun, pastilah yang tervisualisasi dalam benak kita adalah suasana sejuk, damai, semilir penuh pepohonan yang rindang. Dan tanpa sadar kita merindukan suasana itu.
Kemudian beberapa hari lalu dalam sebuah tayangan televisi, seorang calon legislatif dari Jakarta berkampanye dengan membagikan buku tentang Pemanasan Globaldan mengajak warga untuk menanam pohon. Entah hanya untuk mencari simpati semata atau memang tulus. Tapi yang terpenting adalah respons warga. Ketika diwawancarai, seorang warga yang mendapat buku Pemanasan Global dan diajak menanam pohon mengaku senang dan mengatakan kampanye ini paling bermutu dibanding tipe kampanye lain karena mengajak mencintai lingkungan dan sangat positif dan merasa tertarik.
Selanjutnya bila kita menengok ke beberapa tahun silam, sebuah serial televisi berjudul Keluarga Cemara sempat menjadi serial favorit keluarga Indonesia. Tentu selain jalan cerita yang mengena di hati, nama Keluarga Cemara pun menjadi sugesti tersendiri. Mengingatkan kita tentang keteduhan, keasrian sebuah hutan yang damai dan rindang.
Dari ilustrasi di atas, jelas bahwa kita rindu lingkungan yang penuh pepohonan, penuh oksigen, hijau, bebas dari logam, dan berbagai gas beracun lain pada paru-kita dan menyejukkan mata. Itu tanda bahwa kita punya semangat menghijaukan lagi bumi ini, atau setidaknya kota kita sendiri.
Belum lagi, lima tahun terakhir ini, isu Pemanasan Global menjadi pusat perhatian dunia, tentu makin membuat kita tergugah melakukan sesuatu untuk bumi kita, negeri kita, kota kita. Sesuatu untuk mencegah Pemanasan Global, sesuatu untuk mengurangi pencemaran di udara kita, atau setidaknya menunda kemungkinan terburuk dengan menhijaukan tanah ini kembali.
Tapi bukan rahasia, orang Indonesia adalah ras yang mudah bosan dan kurang konsisten. Berkobar di awal, baru menuju pertengahan sudah padam. Rasa bosan mengalahkan ego kita untuk berubah, berubah lebih baik. Rasa bosan kita lebih besar dari nafsu kita untuk berbuat lebih banyak.
Karena itu, mulai sekarang kita harus membalikkan sifat gampang bosan itu. Kita harus memotivasi dan memberi sugesti pada alam bawah sadar kita untuk bosan, bosan tidak berbuat apa-apa, bosan menjadi orang biasa yang menganggap orang lainlahyang harus bertindak serta mulailah lebih mencintai lingkungan kita, keluarga kita diri kita.
Bagaimana memperbaiki lingkungan kita? Bagi kita yang tinggal di Bantul, Sleman, Kulon Progo atau Gunungkidul, untuk melakukan penghijauan tak sulit. Lahan kosong yang terjangkau amat banyak. Belum lagi pepohonan rindang pun masih sangat banyak, baik di pedesaan, pinggir jalan utama, kawasan wisata, bahkan di pinggir industri dan administrasi, membuat penghijauan akan mudah, tergantung dari kerasnya niat kita.
Masalahnya, bagaimana dengan kita yang tinggal di Kota Jogja. Wilayah yang sempit dan bangunan yang penuh sesak membuat semangat 'hijau' kita yang sudah membara menjadi sulit direalisasikan. Lalu bagaimana?
Sebenarnya, kita masih bisa melakukan penghijauan dengan mempertahankan dan menanam pohon di taman kota, sebagai penghasil oksigen di kota yang sempit ini. Tapi, taman kota yang mana? Kalau ada taman, mungkin salah satunya taman Benteng Vredeburg dan sebelah barat Monumen Serangan Umum 1 Maret. Tapi itu sangat terbatas apalagi banyak tanah yang telah disemen. Jadi mau apalagi? Alternatif lain yaitu Gembira Loka. Untung saja area pepohonan masih mendominasi kawasan ini dan fungsi paru-paru kota masih bisa disandang obyek wisata ini. Tapi lagi-lagi terganjal lahan, semua lahan yang tidak ditanami, sudah disemen rapi. Jadi, ke mana kita akan menambah 'hijau' di Jogja?
Daripada kita memikirkan sesuatu yang besar, alangkah baiknya kita mulai dari yang kecil, karena hal yang kecil tapi konsisten lama-kelamaan akan menjadi besar. Kita mulai dari halaman rumah. Tak peduli halaman kita luas atau sempit, kita pasti bisa menghijaukannya. Bagi kita yang mempunyai halaman sempit, kita bisa menggunakan pot yang digantung, kecil tapi banyak. Lalu pilihlah tanaman yang tepat. Jika rumah kita dekat dengan jalan raya yang penuh polusi, tanamlah mahoni, tanjung, meranti merah atau bungur, karena tanaman itu mampu menyerap polusi timbel yang menyebabkan kanker dan merusak jaringan otak dan menghasilkan oksigen, sesuai penelitian Irawati pada 1990. Juga tanaman kenikir yang biasa untuk sayuran pun adalah penyerap logam berat.
Ada baiknya kita melakukan penghijauan atap seperti yang banyak dilakukan di Belanda dengan menanami atap dengan rumput hijau. Bahkan Pemerintah Belanda berani mengeluarkan subsidi Rp 400 ribu atau 60% biaya pemasangan rumput bagi warga yang mau menanami atapnya. Menurut Mark Ottele dari Universitas Teknik Delf, rumput hijau di atap mampu menurunkan panas di sekitar rumah atau Evo-tanspirasi. Tapi tanaman apapun yang kita tanam akan tetap menjadi sumber oksigen dan penghias rumah yang bermanfaat.
Bila kita masih bersekolah, ajaklah teman dan guru kita menanam pohon, 1 orang 1 pohon dengan memperhatikan jenis tanamannya. Untuk menurunkan kadar NO (Nitrogen Oksida) yang menyebabkan sulit nafas dan pembengkakan pada paru-paru, kita bisa menanam kita bisa menanam kaktus, krokot, sri mukti, dan maranta. Bahkan bila ditanam secara rimbun di dekat jendela, bisa menjadi penyaring udara.
Untuk kita yang bekerja di pabrik atau industri, terutama yang menghasilkan debu dan polusi dengan kadar tinggi, kita bisa berkoordinasi dengan pegawai lain serta pemimpin perusahaan. Utarakan maksud kita untuk melakukan penghijauan di lingkungan perusaahan, karena ini juga bagian dari keselamatan kerja dalam mengurangi dampak polusi. Bougenville, bunga merah, dan daun kupu-kupu cukup bagus untuk pengendalian debu serta sebagai tanaman hias. Tanaman peneduh seperti asam kranji dan tiara payung mampu mereduksi kadar NO, SO2 (Sulfur Dioksida) penyebab iritasi tenggorokan dan batuk, dan CO (Karbon Monoksida) yang menyebabkan gangguan jantung dan sesak nafas. Bahkan Puslitbang Jalan, tiara payung mampu mengurangi NO hingga 61, 47% lalu sri mukti mampu mereduksi NO hingga 60,41%.
Tentu bila hal ini terwujud kita akan menikmati hijaunya kota Jogja. Tapi ini belumlah cukup. Usaha yang lain, kita berkoordinasi dengan warga Jogja beserta Lembaga Swadaya Masyarakat semisal Shorea atau Lembaga Arupa Yogyakarta dan Pemkot, melakukan seleksi pada tanaman peneduh di jalan raya dan jalan protokol. Apakah mampu mampu menjadi filter yang baik atau tidak. Menurut Puslitbangkim tahun 1996, untuk jalan protokol, tanaman yang tepat adalah angsana dengan daya serap CO sebesar 55,43%, bougenville 41,59%, dan flamboyant 25,88%.
Sebagai penghasil oksigen pun ada ada banyak pilihan seperti dammar, lamtoro, akasia, dan beringin, sesuai pendapat Widyastana tahun 1991. Serta tak lupa, salah satu tempat yang tinggi tingkat pencemaran yaitu Tempat Pembuangan Akhir, karena area ini rawan zat berbahaya dan berbau menyengat sehingga dianjurkan menanam cempaka dan tanjung di sekitar area tempat pembuangan akhir sampah.
Yang terakhir, kita harus bersatu, bersama warga Jogja dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), untuk memperoleh izin menanam pohon di alun-alun utara dan selatan. Minimal lima pohon di sekitar dua pohon beringin besar bernama Masangin itu untuk alun-alun selatan, dan juga di sekitar dua beringin di alun-alun utara yang bernama Dewodaru dan Janadaru, untuk sebagai pengimbang cuaca, karena pada siang hari alun-alun sangat panas sehingga butuh perindang dan tambahan penghasil oksigen.
Jika terpaksa tak mendapat izin karena sebagai simbol alun-alun, minimal kita bisa menanam pepohonan di sebelah selatan jalan lingkar alun-alun dan menjaga beringin-beringin itu dari vandalisme karena beringin tersebut selain sebagai simbol makrokosmos dan mikrokosmos Jogja, juga sumber oksigen terbesar di alun-alun.
Nah, bila teori-teori di atas bisa kita praktekkan bersama, niscaya setiap kita melangkah ke halaman, pergi sekolah, bekerja, melewati jalan raya, atau bahkan ke tempat pembuangan sampah, dan berolah raga di alun-alun di hari Minggu, maka akan kita dapati hijau di mana-mana. Tak hanya kita mendapatkan oksigen dan kesegaran, kita pun akan lebih sehat karena pencemaran NO, CO, SO2, dan timbel semakin tereduksi. Dan tanpa sadar, kita sudah ikut ambil bagian menyelamatkan bumi dari Global Warming meskipun sedikit. Tak lupa Jogja pun akan mendapatkan gelar baru sebagai ikon “Kota Hijau”, yang tidak hanya terkenal karena pariwisatanya atau pendidikannya tapi juga terkenal 'hijau'-nya.
Tentu wisatawan pun akan semakin bertambah dan pendapatan daerah akan meningkat, yang mana itu semua untuk kemakmuran kita sendiri. Ingat, kalau kita menhancurkan alam, alam pun akan menghancurkan kita, sedang jika kita merawat alam, maka alam pun akan berterima kasih pada kita dengan segala manfaatnya.
Jadi, pastinya bangga dan untung kan, punya ruang terbuka hijau di
Jogja?
Komentar
fuad
pada 12 Apr 2009 06:51 :
Sungguh, saya bangga ada anak muda yang punya wawasan dan mampu menulis seperti ini. Selamat, kami tunggu kiprah Anda selanjutnya. Tks

rosie
pada 12 Apr 2009 08:37 :
Bagus banget,penguasaan materi plus solusinya secara gamblang sdh diuraikan, untuk yang awam sekalipun tinggal mengerjakannya....tapi, sesederhana itukah?... masyarakat kita secara umum rasanya cuma sebahagiaan kecil yg bisa dan mau ikut peduli, selebihnya.........inilah kita masyarakat kita Indonesia, semga tdk demikian dg masyarakat Yogyanya...yang kemudian menjalar kekota lainnya.Amien.

AL RENO
pada 14 Apr 2009 12:03 :
Alhamdulillah, karya saya diapresiasi dengan baik. Semoga menjadi lebih baik ke depannya, dan makin berprestasi. Semoga ide-ide saya mampu direalisasikan tidak hanya warga Jogja tapi seluruh Indonesia bahkan dunia. Terima kasih


Agus Budi Purwanto
pada 14 Apr 2009 13:56 :
Selamat Buat Reno. Dan Selamat buat kota Jogja yang mempunyai penulis muda handal.
Ya! Kita memang rindu dengan suasana Hijau.
Ya! Kita memang rindu dengan suasana Hijau.

Septin_SMA 1
pada 27 Mar 2010 13:28 :
Wush...gak nyangka, kamu kalo di sekolah diem...nek di luar (Jogja, Indonesia, bahkan mungkin internasional) melalui internet, bisa ngomong banyak hal... kita yang di sekolah malah gak tau... lain kali kita dikasih taw juga ilmumu itu..OKOK







