Wanagama Rally
Logo
Topeng Wakil Rakyat dan Sampah
Oleh: Hery Santoso, pengamat lingkungan

Beberapa waktu yang lalu Harian Kompas melaporkan kesan masyarakat terhadap foto-foto calon anggota legislatif yang beterbaran di tiang listrik, tiang telepon, batang pohon, badan dan pantat mobil, serta tembok pagar di pinggir jalan. Itu layaknya papan reklame barang konsumsi yang berlomba menarik perhatian publik.

Sebuah merek rokok impor menyapa dengan citra maskulin koboi; aneka produk rokok nasional gencar menampilkan ungkapan-ungkapan khas anak muda: "enjoy aja",  "awas polisi sedang tidur", "pacar posesif" dan sebagainya. Dan tak kalah gencar ada sampo menampilkan citra pria dan wanita elegan dengan ungkapan "siapa takut".

Sama-sama bereklame, ada beda antara iklan calon anggota legislatif dengan promosi barang konsumsi. Papan reklame barang konsumsi begitu membekas kesannya, dan barangkali juga berhasil mencuri perhatian serta menggoda hati siapa pun yang melintas. Tapi lain halnya dengan papan reklame calon anggota egislatif yang menurut Kompas gagal melakukan komunikasi publik. Foto-foto yang terpampang di sana tak ubahnya gambar entah berantah yang kehadiranya dipaksakan. Pesan-pesan yang tertulis pun terkesan basa-basi dan klise.
 
Lantas apa yang bisa kita harapkan dari sana? Itulah kesan, sebut saja namanya Pardi, tetangga saya, seorang kepala rumah tangga muda pengangguran yang pada musim kampanye kali ini sudah beberapa kali ikut sosialisasi calon anggota legislatif dari berbagai partai. Dan ia mengantongi sedikitnya Rp 25 ribu tiap kali datang. Baginya foto-foto calon anggota legislatif dan ungkapan-ungkapan yang tertulis tak punya arti apa pun. Pardi tak melihat orang-orang yang menurutnya fotonya “mbagusi” itu tulus berjuang untuk rakyat, sebagaimana ungkapan dan slogan yang tertulis di spanduk, baliho dan papan reklame mereka. Dia sepertinya yakin foto-foto itu topeng belaka, bukan nyata.
 
Bagi Pardi, mungkin karena status sosial dan kemiskinan, pesan-pesan visual para calon anggota legislatif itu sama sekali tak membekas, dan tak mampu membangkitkan apa pun dalam dirinya. Foto-foto para calon anggota legislatif yang betebaran, meski datang dari berbagai penjuru tempat, dan mewakili berbagai golongan, terkesan semuanya sama, sulit dibedakan siapa yang lebih unggul, siapa yang lebih tangkas dan siapa yang lebih menarik. Karena itulah wajar Pardi sendiri sampai dengan hari ini masih bingung mencontreng siapa dalam hari-H pemilihan umum pada Kamis, 9 April pekan ini.

Foto-foto calon anggota legislatif mengerumuni sudut-sudut desanya tapi tak mampu membimbing Pardi sampai pada kesimpulan pasti siapa wakil rakyat yang mesti ia pilih. Foto-foto itu tak memperjelas identitas tapi justru mengaburkan. Bahwa mereka menuliskan pesan yang beraneka ragam, dengan pose yang berbagai rupa, menurut Pardi intinya sama: mereka minta dipilih.

Apakah ini skeptisme rakyat terhadap calon wakil rakyat? Ataukah ini kegagalan komunikasi politik melalui media visual? Boleh jadi kedua-duanya. Dalam situasi perpolitikan di Indonesia yang dari hari ke hari tak lebih baik, berbagai kiat politik baik melalui media elektronik maupun media cetak seringkali dianggap hanya akal-akalan. Terobosan pemilu kali ini yang banyak diwarnai kampanye poster foto calon anggota legislatif, belum mampu mengangkat apapun kecuali kesan bahwa teknologi komputer dan cetak-mencetak kini semakin maju.
 
Poster-poster para caleg itubelum mampu menandingi daya tarik, katakanlah poster Marlboro dan Losta Masta. Foto-foto para calon anggota legislatif di sana tak bisa membangkitkan kesan bahwa mereka sosok bersih yang siap berjuang untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat, meski mereka telah membubuhkan kalimat-kalimat memikat seperti: “Siap Membela Rakyat”, “Pancen OK”, “Berpengalaman dan Terbukti Bersih”.
Sehari-hari kita yang kerap dihiasi dengan informasi mengenai anggota DPR yang korup dan main perempuan, meski itu bukan berarti semua anggota dewan berperilaku seburuk itu,  sulit untuk dihapus begitu saja dengan tampilan foto-foto yang “kemayu dan mbagusi”, dengan pesan-pesan moral dan perjuangan yang begitu menggelegar.

Lepas dari komentar orang sebagaimana yang disebutkan di muka, saya sendiri sebenarnya cukup menikmati parade foto calon anggota legislatif yang mejeng di pertigaan dan perempatan jalan. Berbagai cara yang mereka lakukan, dari mulai menuliskan kata-kata klise yang lazim digunakan dalam undangan perkawinan, seperti  “mohon doa restu”, yang tentu saja di sini harus diartikan sebagai “mohon pilihlah saya”; sampai mereka yang menuliskan kata-kata yang lazim digunakan oleh kalangan militer: "siap mengamankan SBY dalam pemilu presiden mendatang".

Bukan hanya itu, saya pun melihat di parade foto yang kian bertambah banyak itu. Wajah-wajah itu mengingatkan saya pada sampul majalah: di sana ada sentuhan, polesan,kostum, pose dan gesture khas yang mengesankan mereka sedang berada di atas pentas – suatu kesan artifisial yang justru tidak menampilkan kesejatian. Mungkin, karena pemilu dimaknai sebagai pesta (demokrasi), sehingga tidak salah kalau di sana ada pentas, pose dan kostum. Dan melalui foto-foto itu para caleg agaknya sedang memainkan peran sebagai aktor dan artis dengan setting dan skenario tertentu. Sudah tentu, selayaknya pentas, jati diri bukanlah topik utama; justru yang menjadi penting di sini adalah bagaimana topeng-topeng harus dikenakan, demi memikat para penonton.

Menghubungkan wajah-wajah di poster, spanduk dan baliho itu dengan program-program strategis menurut saya adalah sesuatu yang agak sulit, setidaknya untuk saat ini. Barangkali bukan lantaran mereka tak mampu merumuskan program-program seperti itu, akan tetapi karena Pemilu itu sendiri yang diinterpretasikan sebagai pesta. Maka cukup beralasan kalau kemudian ada seorang pemuda yang ikut berkampanye untuk sebuah parpol tertentu dengan enteng menyatakan bahwa keikutsertaaannya tidak lebih dari sekedar untuk hura-hura dalam pesta demokrasi. Pemuda itu sebenarnya agak bingung ketika ditanya tentang motivasinya. Dia kaget dengan pertanyaan seperti itu. Dan komentar yang kemudian keluar adalah bahwa mereka hanya  ikut beramai-ramai dengan teman dan pacar, sekadar penyegaran.

Kalau kita kembali mengutip kesan Pardi di muka, lantas apa yang bisa diharapkan dari foto-foto disepanjang jalan itu? Maryanto (bukan nama sebenarnya), seorang tokoh masyarakat, dengan bijak  berujar bahwa sebaiknya kita tak usah terlalu jauh memikirkannya, karena itu semua adalah sekadar hiasan bagi pesta demokrasi, semacam janur yang diperlukan dalam sebuah pesta perkawinan, yang akan jadi sampah.

Belum ada Komentar

Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/banner_argentumbooks.jpg
files/logobc1.png
files/banner_khatulistiwa.jpg
files/beritabandoeng.jpg