Wanagama Rally
Logo
Logo dan James Bond
Oleh: Hery Santoso, praktisi lingkungan hidup

Percaya atau tidak, komoditas perdagangan yang sekarang imembanjiri kita semua adalah logo. Bukan hamburger, fried chicken, minuman cola bersoda, kaos katun halus bikinan Jerman, sepatu bagus bikinan Amerika, celana koboi warna biru yang lazim disebut jeans, barang elektronik bikinan Jepang ataupun batik bikinan Yogya.

Logo telah menancapkan kekuasaannya. Itu seperti kolonialisme menghunjamkan hegemoni pada segenap negara-negara di Asia dan Afrika pada pertengan Abad 19 sampai awal Abad 20. Orang membeli baju tak lagi melihat apakah ukurannya pas, enak dipakai, bisa menyerap keringat atau tidak, mudah dicuci atau tidak, apakah cocok dengan perangai dan ukuran tubuh, murah atau mahal. Orang cenderung mementingkan logo apa yang ada di sana: apakah seekor buaya, harimau yang sedang menerkam, tiga garis gemuk yang membentuk bangun segitiga, sebatang paku, palu, seorang lelaki yang sedang berkuda sambil membawa tongkat, atau sekedar grafis tertentu yang tidak membentuk suatu bangunan apapun akan tetapi akrab di mata kita semua.

Orang yang sampai pada pengamatan demikian itu adalah perempuan bernama Naomi Klein, penulis buku "No Logo", yang terbit belum lama ini. Melalui buku itu, ia menggambarkan bagaimana fenomena logo mengalami pergeseran, dari yang semula dipasang di balik krah baju, kini tertempel di saku, lengan, punggung, dan bahkan terkadang mendominasi seluruh permukaan luar suatu produk; dari yang semula hanya berperan sebagai “orang di balik layar”, kini menjadi “aktor utama” panggung kapitalisme, dan melakukan semacam pembajakan kultur pada segenap trend, menembus ruang-ruang publik, tidak terkecuali sekolah dan kampus.

Ia pun kemudian seperti meneriakkan seruan perang terhadap segenap logo, khususnya yang terkait dengan korporasi internasional; sebuah kekuatan baru yang (menurutnya) telah mendiktekan berbagai nilai pada hampir setiap inchi permukaan tubuh kita, ataupun setiap meter ruangan di rumah kita, ataupun setiap potong makanan yang kita telan.

Persoalannya bukan saja bahwa mereka telah menguasai hampir di semua lini kehidupan, akan tetapi justru pada ilusi-ilusi yang sebenarnya tak ada. Berdasar catatannya, yang dilakukan korporasi internasional tak lebih dari sekadar memindahkan sampah dari Barat ke Timur, atau Selatan. Keuntungan yang didapat negara-negara ketiga hanya tersedianya lapangan kerja.

Tapi harus dicatat, jangan harap "keuntungan" itu bisa mendatangkan kesejahteraan. Bila ditambahkan dengan segenap dampak lingkungan yang timbul, seperti polusi udara dan limbah cair, maka "keuntungan" itu sama artinya dengan: kebohongan. Apalagi bila kita menambahkan dampak lain, yakni gulung tikarnya berbagai produk lokal, maka kebohongan itu memiliki arti: penghancuran.

Maka boikot terhadap segenap logo kapitalisme adalah jalan keluar yang ditawarkan Naomi pada siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap nasib timur dan selatan, juga nasib lingkungan. Tapi teriakan itu ditanggapi dengan dingin oleh segenap aktivis kiri, setidaknya oleh Palash Dave, seorang penulis pada sebuah situs: The Voice of The Turtle.

Di sana ia mengemukakan bahwa  sekedar meneriakkan perang terhadap logo saja belum cukup, akan tetapi harus ditindaklanjuti sampai ke tingkat agitasi politik. Ia bahkan membuat kategorisasi mengejutkan, yakni mengkontradiksikan gerakan merah (kiri) dan hijau (lingkungan). Menurutnya yang pertama lebih berorientasi pada kosmopolitanisme, yang ke dua pada proteksi nilai lokal; yang pertama lebih berorientasi pada strategi ekonomi makro, yang kedua pada prinsip “kecil itu indah”; yang pertama lebih berorientasi pada internasionalisme, yang ke dua regionalisme; yang pertama revolusioner, yang ke dua reformis; dan yang pertama idealis, yang ke dua skeptis. Wow...!

Saya tak membayangkan apa komentar Palash terhadap bentuk-bentuk pengelolaan sumber daya alam yang menerapkan strategi co-management, multi stakeholder, dan partisipasi. Saya jadi ingat seorang kawan yang tak betah menonton film "The Dead-poet Society", hanya karena di sana tak ada teriakan-teriakan garang, dan perkelahian dramatis yang memukau, sebagaimana "Rambo", "Lethal Weapon", ataupun serial "James Bond".

Belum ada Komentar

Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/banner_argentumbooks.jpg
files/logobc1.png
files/banner_khatulistiwa.jpg
files/beritabandoeng.jpg