Wanagama Rally
Logo
Runtuhnya Imperium Amerika
Oleh Farid Gaban

Bintang-bintang keuangan Amerika berjatuhan seperti daun musim gugur. Merrill Lynch, Lehman Brothers, dan American International Group meleleh ke tanah.

Washington Mutual terjatuh koma; belum pernah ada bank setua dan sebesar ini yang bangkrut sepanjang sejarah Amerika. Benarkah ini akhir bagi kedigdayaan Amerika?

“Krisis keuangan global akan menyaksikan Amerika remuk dengan cara yang sama seperti Uni Soviet menyusul robohnya Tembok Berlin,” tulis kolumnis John Gray di Harian The Observer, Inggris. “Era dominasi Amerika terlah berakhir.”

Kejayaan dan keunggulan dipergilirkan di antara umat manusia. China, Romawi, Yunani, India, Islam, Eropa. Dan ramalan model John Gray sebenarnya sudah berumur lebih 20 tahun. Pada 1980-an beberapa akademisi Amerika sendiri telah mengingatkan indikator merosotnya kedigdayaan negeri mereka. Salah satunya adalah Paul Kennedy, sejarawan dari Yale University, Connecticut.

Pada 1987, Kennedy menerbitkan buku berjudul "The Rise and Fall of the Great Powers". Buku itu membahas sejarah pasang naik dan runtuhnya imperium dunia setelah Reanissance: Inggris, Prancis, Prusia, Austro-Hungaria dan Rusia.

Kennedy membuat daftar indikator melemahnya kekuatan dunia, dan berdasar itu dia juga meramalkan keruntuhan sebuah imperium.

Kebenaran ramalan Kennedy terbukti dalam runtuhnya Imperium Komunisme Uni Soviet yang antara lain ditandai secara monumental dengan robohnya Tembok Berlin. Bahkan Kennedy sendiri tak menduga keruntuhan itu demikian cepat, hampir bersamaan dengan terbitnya buku ini.

Tak hanya Soviet. Dalam buku itu, Kennedy juga meramalkan hal serupa untuk Amerika. Diperlukan waktu berdasawarsa untuk keruntuhan sebuah imperium.

Salah satu tanda keruntuhan sebuah imperium adalah ketika dia terlalu mengandalkan kedigdayaan militer—bukannya pertanian, pendidikan, industri dan sains. Anggaran militer Soviet meningkat tajam menjelang keruntuhannya. Hal yang sama juga terjadi pada Amerika dalam satu-dua dasawarsa terakhir.

Inilah fenomena yang disebut "imperial overstretch": imperium melebar terlalu luas melebihi kemampuan untuk memelihara komitmen militer dan ekonomi. Defisit anggaran, terutama akibat ugal-ugalan dalam membangun otot militer, menurut Kennedy, merupakan indikator terpenting keruntuhkan sebuah imperium. Defisit Amerika di masa ayah-beranak George Bush memang gila-gilaan, setelah sebenarnya sempat membaik pada masa Bill Clinton.

Petualangan militer Amerika di Afghanistan dan Irak sekarang nampaknya merupakan babak akhir. Petualangan ini tak hanya menyedot biaya besar, tapi juga mencerminkan remuk-redamnya otoritas moral Amerika untuk bicara hak asasi, demokrasi, dan hubungan pergaulan internasional yang beradab.

Guantanmo, Abu Ghraib, dan Fallujah menjadi bukti rusaknya moral kebijakan luar negeri Amerika. Sementara di banyak belahan bumi, orang mengelu-elukan Hugo Chavez dari Venezuela dan Ahmadinejad dari Iran yang secara terbuka mempermalukan George Bush.

Kejayaan dan keunggulan dipergilirkan.

Siapa kira-kira yang akan menggantikan Amerika menjadi adikuasa baru? Paul Kennedy memberi isyarat dalam bukunya: China atau Uni Eropa, negeri industri yang tidak melupakan pertanian, serta serius mengivestasikan uang, tenaga dan pikiran untuk pendidikan.

Indonesia? Tak perlu bermimpi jadi imperium. Cukup secara sungguh-sungguh membangun kembali pendidikan dan pertanian (bukan revitalisasi basa-basi) untuk memperkuat diri dan martabat.***
Muhammad pada 30 Mar 2009 04:13 :
eh, ada edisi cetaknya g opini ini dan berita Jogja ini? kayaknya di Malioboro g kutemukan dech!
Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/banner_argentumbooks.jpg
files/logobc1.png
files/banner_khatulistiwa.jpg
files/beritabandoeng.jpg