Desa Wisata di Sleman Mulai Ramai Pengunjung

SLEMAN_Erupsi Gunung Merapi yang terjadi 26 Oktober 2010 lalu tidak memberikan dampak pada jumlah pengunjung pariwisata Sleman yang turun drastis. Kaliurang  dan lereng Merapi yang menjadi tempat wisata favorit di Sleman menjadi lumpuh saat itu, bahkan seperti Kaliurang sempat ditutup sesaat.

Tidak hanya wisata Pegunungan lereng Merapi yang mengalami penurunan jumlah pengunjung, namun beberapa Desa Wisata di Sleman sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung yang drastis paska erupsi Merapi. namun kini, Desa Wisata di Sleman sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disbudpar Sleman Dra. Nurhadiyati Padminingsih, Rabu (29/12) dikantornya, mengungkapkan kini Desa-Desa Wisata di Sleman sudah terlihat semakin banyak wisatawan yang mengagendakan berkunjung ke desa wisata.

“Desa wisata Brayut misalnya sudah menerima banyak pesanan wisatawan, yaitu 120 siswa SMA Mikael Jakarta pada tanggal 29 Desember 2010 dengan agenda reuni sekolah.” tambahnya

Selain itu 60 orang dari UPN Veteran Yogyakarta tanggal 15 – 16 Januari 2011, dan 150 siswa SMP PIUS Cilacap pada tanggal 17 – 20 Januari 2010 yang akan belajar membatik, karawitan, outbound tangkap ikan juga akan mengunjungi Desa Wisata Brayut.

Desa wisata Sidoakur, Jethak Sidokarto Godean menerima tamu 22 orang dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olah Raga Kabupaten Purwokerto pada tanggal 24 – 25 silam, dan 50 orang dari kelompok TIPP Kabupaten Boyolali. Desa wisata Pentingsari akan menerima rombongan sebanyak 110 orang dari SMA I Surabaya pada awal Januari mendatang, desa wisata Ketingan menerima kunjungan 80 orang dari Jakarta bertemapat dengan malam tahun baru mendatang atau 31 Desember 2010. Desa wisata Kelor menerima tamu 50 orang dari UGM pada tanggal 29 Desember, dan 120 orang dari Jakarta pada tanggal 30 – 31 Desember 2010.

Sedangkan desa wisata Sukunan menerima 30 orang tamu dari UGM pada tanggal 30 Desember, dan pada awal bulan Januari mendatang akan menerima tamu 7 orang dari Jakarta yang akan belajar selama tiga hari tentang pengelolaan sampah, dan 10 orang dari Jepang yang akan menginap dua malam dan belajar tentang manajemen limbah plastik.

Sementara itu Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Pariwisata Disbudpar Sleman Wasita, SS, MAP mengatakan bahwa pada saat ini desa wisata sudah layak untuk menjadi pilihan wisatawan. Karena disamping menawarkan potensi budaya lokal yang khas, desa wisata juga sebagai tempat dan media edukasi tentang kearifan lokal. Bahkan kini desa wisata sudah banyak dijadikan sebagai tempat untuk menyelenggarakan pelatihan, workshop, seminar skala kecil dan menengah, pertemuan keluarga, reuni sekolah, dll. (DN)

Leave a Reply