BERITA SEBELUMNYA:
9 Feb 2010 10:51 - Exwan Novianto
Minggu Besuk, Warga Girikerto Gelar Tradisi Budaya NGROWHOD
Sleman: Warga masyarakat Desa Girikerto Turi Sleman kembali akan menggelar tradisi budaya “NGROWHOD”, Minggu 14 Februari 2009 Pukul 09.00 WIB di Dusun Nangsri Girikerto Turi Sleman.
Menurut Ketua panitia Sujono, upacara tradisi budaya Ngrowhod mengandung makna “Ngleluri Ombyaking Warga Hametri Kuncara Desa” yang kali ini mengambil tema “Kanthi Upacara Ngrowhod Guyub Rukun Ngluri Budi Luhur Kanggo Raharjaning Desa”. Upacara tradisi tersebut dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Kuasa atas hasil bumi yang melimpah serta berkah berupa mata air yang dikenal “Umbul Nangsri” yang mengalirkan air tiada henti sepanjang tahun.
Bagi masyarakat keberadaan “Umbul Nangsri” merupakan hal yang penting karena dapat menyediakan kebutuhan air untuk kehidupan sehari-hari serta untuk kebutuhan pengairan persawahan disekitarnya. Tradisi ini berangkat dari rasa keprihatinan akan semakin terkikisnya nilai-nilai budaya di masyarakat atas arus informasi budaya barat yang susah dibendung.
Tradisi budaya Ngrowhod merupakan langkah awal untuk memperkenalkan potensi hasil bumi dan potensi budaya sehingga diharapkan akan menjadi aset wisata yang potensial.
Puncak acara berupa prosesi Upacara Ngrowhod Minggu 14 Februari 2009 jam 09.00 WIB di Dusun Nangsri. Rangkaian prosesi diawali dengan pengambilan air dari mata air Umbul Nangsri untuk dibawa dan dibagikan kepada seluruh warga dusun yang ada di wilayah Desa Girikerto dengan iringan berbagai macam kesenian dan Dimas Diajeng Desa Girikerto. Jam 11.00 WIB, acara dilanjutkan dengan kirab budaya yang berupa kirab tumpeng dan ubarampe, serta hasil bumi yang meliputi baik pala kependem, pala kesimpar dan pala gumantung. Semua peserta kirab yang mengenakan busana tradisional akan melalui jalur mengelilingi Desa Girikerto.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Drs. Untoro Budiharjo mengatakan bahwa acara tradisi budaya Ngrowhod ini merupakan agenda budaya yang positif, karena ditengah tengah arus globalisasi yang kian marak, masih ada masyarakat yang dengan antusias nguri-uri budaya tradisional sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah dan mata air yang mengalir tiada henti ini.
Menurut Ketua panitia Sujono, upacara tradisi budaya Ngrowhod mengandung makna “Ngleluri Ombyaking Warga Hametri Kuncara Desa” yang kali ini mengambil tema “Kanthi Upacara Ngrowhod Guyub Rukun Ngluri Budi Luhur Kanggo Raharjaning Desa”. Upacara tradisi tersebut dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Kuasa atas hasil bumi yang melimpah serta berkah berupa mata air yang dikenal “Umbul Nangsri” yang mengalirkan air tiada henti sepanjang tahun.
Bagi masyarakat keberadaan “Umbul Nangsri” merupakan hal yang penting karena dapat menyediakan kebutuhan air untuk kehidupan sehari-hari serta untuk kebutuhan pengairan persawahan disekitarnya. Tradisi ini berangkat dari rasa keprihatinan akan semakin terkikisnya nilai-nilai budaya di masyarakat atas arus informasi budaya barat yang susah dibendung.
Tradisi budaya Ngrowhod merupakan langkah awal untuk memperkenalkan potensi hasil bumi dan potensi budaya sehingga diharapkan akan menjadi aset wisata yang potensial.
Puncak acara berupa prosesi Upacara Ngrowhod Minggu 14 Februari 2009 jam 09.00 WIB di Dusun Nangsri. Rangkaian prosesi diawali dengan pengambilan air dari mata air Umbul Nangsri untuk dibawa dan dibagikan kepada seluruh warga dusun yang ada di wilayah Desa Girikerto dengan iringan berbagai macam kesenian dan Dimas Diajeng Desa Girikerto. Jam 11.00 WIB, acara dilanjutkan dengan kirab budaya yang berupa kirab tumpeng dan ubarampe, serta hasil bumi yang meliputi baik pala kependem, pala kesimpar dan pala gumantung. Semua peserta kirab yang mengenakan busana tradisional akan melalui jalur mengelilingi Desa Girikerto.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Drs. Untoro Budiharjo mengatakan bahwa acara tradisi budaya Ngrowhod ini merupakan agenda budaya yang positif, karena ditengah tengah arus globalisasi yang kian marak, masih ada masyarakat yang dengan antusias nguri-uri budaya tradisional sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah dan mata air yang mengalir tiada henti ini.
Komentar
Belum ada Komentar
