11 Jul 2009 09:00 - Dwi Nugroho
Menyentuh Fosil Kayu Dengan Seni, Mampu Memikat Hati
BANTUL_Fosil kayu, benda keras yang dulunya berupa bahan organik kayu ini setelah mengalami proses kimia dan fisika terbentuk menjadi keras. Fosil kayu atau yang sering disebut juga dengan Wooden Fosil Stone ini ternyata bukan hanya menjadi barang kuno yang tidak ada nilainya.
Di tangan Yuli dan rekan-rekanya, pengrajin yang juga mengelola gerai kerajinan Agil Craft di kawasan Kasongan ini, fosil kayu dapat diubah menjadi barang dengan nilai seni yang cukup tinggi. Bongkahan batu keras ini diubah menjadi hiasan-hiasan ruangan untuk dekorasi.
Bentuk hiasan untuk dekorasi inipun bentuknya beragam. Ada yang bentuknya hanya berupa batang, ada pula yang sudah dimodifikasi menjadi bentuk lain seperti tempat buah atau tempat sabun. Untuk tempat buah, biasanya fosil kayu berupa kulit kayu dengan bentuk agak melengkung dapat digunakan sebagai tempat buah. Untuk ukuran yang lebih kecil, dapat digunakan untuk tempat sabun.
"Peminat hasil seni fosil kayu ini cukup tinggi. Masyarakat tertarik dengan warna dan bentuknya yang abstrak dan terkesan alami", ungkap Yuli saat ditemui berita Jogja.
"Penjualan fosil kayu saat ini masih terbatas masyarakat lokal dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sini. Kami belum mampu menembuas pasar ekspor", tambah Yuli.
Kerajinan fosil kayu dijual dengan harga Rp 8.500 setiap Kg. Penjualan fosil kayu ini dijual per kg, bukan per buah. walaupun penjualannya masih masyarakat lokal dan wisatawan yang berkunjung, dari kerajinan fosil ini omset penjualannya mencapai Rp 30Juta.
Saat ini, Agil Craft sendiri baru memperbanyak jumlah produksinya untuk dapat menembus pasar ekspor. Jumlah yang dihasilkan saat ini belum mampu karena masih cukup sedikit hasil produknya. Fosil kayu sendiri, berdasar peraturan pemerintah tidak dapat diekspor sebelum dibuat suatu kerajinan yang mempunyai nilai lebih.
Proses pembuatan hiasan atau produk dari fosil kayu ini tidak sulit. Bentuk fosil kayu yang alami ini pertama kali dibersihkan tanah-tanahnya yang menempel, kemudian langsung digosok (digrendo) agar mengkilat. proses selanjutnya adalah dicuci dan dialnjutkan lagi dengan dipoles agar lebih bersih dan mengkilat.
Bahan baku kerajinan fosil kayu ini banyak ditemukan di kawasan pesisir selatan. Untuk ketersediaan bahan baku, saat ini masih banyak. "bahkan, untuk bahan baku, ada warga yang mempunyai mata pencaharian mencari dan menggali fosil kayu", tambah Yuli.
Komentar
Belum ada Komentar






