15 Jan 2009 10:30 - Nurhikmah
Susur Peradaban Lewat Sungai Gajah Wong
SUNGAI merupakan bagian dari alam yang terkait erat dengan manusia. Tak diragukan lagi keberadaannya sebagai mata air penghidupan sangat penting. Di Yogyakarta sendiri terdapat beberapa sungai yang mengalir, antara lain Code dan Gajah Wong. Kali Code kini telah dipermak sedemikian rupa agar bisa banyak fungsinya bagi masyarakat. Bahkan, tata perumahan di sekitar Code telah mengalami perubahan ke arah positif.
Bagaimana dengan Gajah Wong? Sungai yang mengalir di tengah kota ini semakin sepi dari perbincangan. Apabila menyusuri bagian dari sungai ini yang bersilangan dengan Selokan Mataram, maka kita akan melihat sampah menumpuk dan tak terurus. Di atas sungai telah berdiri pemukiman penduduk yang sangat sederhana. Pemandangannya kian diperburuk dengan air sungai yang tak jernih lagi.
Keadaan Sungai Gajah Wong bukan tak menyita perhatian masyarakat, termasuk LSM. Semisal pada peringatan Hari Bumi 2006 silam, WALHI dengan berbagai pihak mengadakan acara dan melibatkan warga sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong. Dengan melibatkan arus bawah tersebut diharapkan terjadi pengorganisasian gerakan sosial untuk mengatasi persoalan yang dialami warga sekitar sungai Gajah wong.
Menyitir pendapat Pieter Lausal dari Dinas Kota, bahwa kebersihan sungai adalah mutlak menjaga keberlangsungan aktivitas masyarakat sekitar.
Dalam acara tersebut pula, Agus Sumaryono, pakar penataan Daerah Aliran Sungai (DAS) menarasikan sisi historis manusia dalam kaitannya dengan sungai. Ia mengatakan bahwa sungai memiliki peranan sentral dalam kehidupan umat manusia.
"Ini terbukti dari pusat-pusat peradaban yang berlokasi tak jauh dari sungai. Misalnya Taman Sari atau Candi Prambanan," kata Agus.
Gagasan ini pula yang selaiknya dikembangkan hingga saat ini. Tak terkecuali dengan Sungai Gajah Wong yang nyaris terlupakan. Padahal sungai ini menjadi salah satu ikon Yogyakarta selain Gunung Merapi ataupun Pantai Selatan.
Selain itu, hal esensi lainnya ialah Gajah Wong masih menjadi tumpuan harapan para penduduk sekitar yang notabene bekerja di sektor non-formal. Kehidupan mereka juga tak lepas dari masalah penggusuran akibat tarik ulur kepemilikan tanah “Sultan Ground”.
Warga sekitar perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk merencanakan secara apik perbaiakn sungai tersebut. Apalagi sebagian besar dari mereka tetap bersikukuh untuk tinggal di wilayah tersebut. Bantuan berbagai pihak tak hanya meliputi keseimbanagn ekosistem sungai, tapi juga menyoroti persoalan sampah dari limbah pabrik atau pusat perbelanjaan.
Tak disangsikan lagi jika sebagian sampah bukan berasal dari konsumsi penduduk sekitar Gajah Wong. Parahnya lebih banyak berasal dari residu industri. Harga yang harus dibayar atas berkembangnya industri besar-besaran.***
Komentar
Belum ada Komentar






