Wanagama Rally
Logo
Menjahit kehidupan di Pasar Sleman
PASAR TRADISIONAL masih jadi tujuan warga untuk melakukan jual beli. Di setiap kota, kita pasti akan menemukan pasar-pasar tradisional yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat. Bahkan, di lingkungan perkotaan sekalipun, pasar ini masih bertahan di tengah gempuran pasar modern.

Tak dapat dimungkiri, jika saat ini kian bermunculan pusat perbelanjaan modern seperti mall, hypermarket, minimarket, dan sebagainya. Sontak, kehadiran sentral jual beli ini menggeser posisi pasar lokal. Tidak saja karena jaminan barang yang bersih, mudah didapatkan, tapi juga pengunjung mall dan sejenisnya dimanjakan dengan kenyamanan tempat berbelanja. Namun, pasar rakyat tetap diperlukan karena transaksinya yang khas.

Di Yogyakarta, setiap daerah memiliki pasar tradisional baik dalam skala besar, sedang, maupun kecil. Salah satu tempat tradisional yang melakukan transaksi jual beli khususnya hasil alam adalah Pasar Sleman . Pasar yang berlokasi di wilayah Barat kota gudeg ini menjadi tujuan utama warga Sleman. Pengunjung yang saban hari berbelanja sangat banyak.  Dilihat dari lokasinya, pasar ini terbilang cukup bersih, hanya saja masih ada gundukan sampah di beberapa sudut.

Selintas terlihat tempat ini biasa saja seperti laiknya pasar tradisional. Akan tetapi, jika kita menjelajah tiap sudut pasar, maka akan ditemukan hal yang cukup unik. Di ujung pasar bagian barat terdapat lokasi para penjahit yang sedang menanti pelanggannya. Sekira 5 orang laki-laki lanjut usia telah bersiap-siap duduk di peraduannya untuk beraktivitas seperti biasanya. Mereka hanya bermodalkan satu set mesin jahit mini yang siap melayani para pengunjungnya.

Satu pagi di awal Januari, lokasi tersebut terlihat sangat sepi. Memang, menurut salah satu pedagang, jahitan pesanan hanya akan ramai pada pahing atau Minggu siang. Namun, mereka tak berkecil hati. Usia yang sangat tua tak menghalangi mereka untuk berusaha. Salah satunya Pak Sumadi.

“Saya telah menjadi tukang jahit di Pasar Sleman selama 15 tahun di Pasar Sleman”, ujarnya sambil tersenyum.

Keberadaan para tukang jahit dengan peralatan seadanya memperlihatkan geliat mereka yang tak patah arang. Meskipun telah banyak bisnis jahit yang lebih modern disediakan di mall atau toko-toko, mereka tetap berusaha meramaikan pasar tradisional. "Selain karena motif ekonomi, aktivitas ini merupakan tradisi yang turun temurun," imbuhnya.

Usaha jahit di Pasar Sleman bisa menjadi alternatif untuk melayani kebutuhan masyarakat. Alangkah suatu keindahan jika para penjahit ini tetap diberikan tempat untuk berusaha, alias tak digusur.***
nanik pada 7 Mar 2009 11:35 :
mengesankan....keberadaan lansia memang harus dihargai....mereka membutuhkan perhatian dan khusus dari masyarakat luas dan dari pemerintah pada khususnya....bayangkan saja bila tahun 2008 aja kurang lebih 2800 sekian lansia terlantar dijogja....sungguh mengerikan dan memprihatinkan...lalu bagaimana sikap kita orang muda menghadapi hal itu...???
Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/banner_argentumbooks.jpg
files/logobc1.png
files/banner_khatulistiwa.jpg
files/beritabandoeng.jpg