Wanagama Rally
Logo
CSR Tidak Harus Selalu Berupa Bantuan Modal
SLEMAN : Di dunia usaha, sekarang ini kita mengenal istilah Corporate Social Responsibility (CSR). Sesuai namanya, hal itu diharapkan menjadi bentuk tanggungjawab pelaku usaha terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Lewat kegiatan ini kita dapat melihat niat baik korporasi untuk mengembangkan masyarakat.

Latuharheri, dari BNI 46 mengatakan kepedulian terhadap masyarakat selaiknya melingkupi  faktor ekonomi, sosial lingkungan, serta sumber daya alam. "Kalau dari BNI, kami ada program kemitraan bina lingkungan dengan pola kluster yang diberi nama Kampoeng BNI," katanya pada Talkshow CSR dan Masyarakat Hutan di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (14/01).

Menurutnya, BNI 46 pernah memberi kredit usaha bagi peternak sapi di Subang yang memiliki tim pendamping pengembangan usaha. "Hasilnya lumayan menggembirakan," imbuhnya.

Sebelumnya, lanjut Heri, masyarakat hanya mendapatkan sekitar Rp 15.000 setiap hari dengan menjual kayu bakar dari hutan.  "Setelah ikut beternak rata-rata setiap hari mampu menghasilkan Rp 35.000," katanya.

Pemberdayaan masyarakat tidak harus selalu dengan memberikan uang. Anggapan ini dapat menjebak bahwa untuk memulai usaha masyarakat butuh modal besar. "Yang penting adalah memberdayakan aspek komunitas masyarakat," ujar Susi Hutomo yang mewakili The Body Shop, perusahaan kosmetik dari Inggris.

Lewat program Community Trade, Susi menyebutkan perlunya program perdagangan, pengelolaan sumber daya alam yang bukan hanya memperhatikan pasar atau produk melainkan, juga pertukaran nilai budaya masyarakat.

Dengan demikian masyarakat dapat menempati posisi setara bersama  pemerintah dan pelaku usaha. "Masyarakat bukan kelompok yang tidak berdaya sama sekali. Pertanggungjawaban perusahaan pun tidak perlu terikat bidang, ruang, atau waktu," imbuh Susi.

Agus Affianto, Direktur Java Learning Centre (Javlec), penggagas acara itu mengatakan bahwa apapun bentuknya, CSR harus memprioritaskan warga sekitar beroperasinya perusahaan. “Jangan sampai mengambil bahan baku dari Jogja, tapi membiarkan warga Jogja tetap miskin,” katanya. ***

Belum ada Komentar

Nama :
Email :
Website :
Komentar :
Kode Verifikasi
Masukkan kode Verifikasi :
files/banner_argentumbooks.jpg
files/logobc1.png
files/banner_khatulistiwa.jpg
files/beritabandoeng.jpg