21 Jan 2009 08:05 - Asep Saefullah
5 Februari, Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo
SLEMAN : Rangkaian Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo akan digelar mulai 23 Januari hingga 7 Februari 2009 di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman. Puncak acara dilaksanakan pada hari Kamis Wage malam Jum’at Kliwon 5 Februari 2009 yang berupa Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo.
Tony Suryanto, ketua panitia mengatakan kirab mulai dari halaman masjid peninggalan Ki Ageng Wonolelo menuju Makam Ki Ageng Wonolelo oleh sesepuh trah, putro wayah, santri, alim ulama, prajurit dan berbagai kelompok kesenian. "Setelah itu dilanjutkan dengan penyebaran apem kepada pengunjung sebanyak satu ton," katanya.
Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang linuwih, ia pernah diutus oleh Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Ia pun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.
Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya. Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi ia banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka atau jimat dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.
Tony mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo adalah untuk mendukung Yogyakarta dan khususnya Sleman sebagai daerah tujuan wisata. " Serta mengajak generasi muda untuk menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung dan memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri," papar Tony.
Hajatan itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama aktivitas kegiatan berlangsung. Menurut Tony, pelaksanaan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo akan diawali dengan Pengajian Akbar sebagai syiar agama Islam dan sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam yang gigih.
Disamping pengajian akbar juga diselenggarakan pasar budaya dan pasar malam mulai 23 Januari hingga 7 Februari 2009 yang menampilkan suasana tradisional berupa stand-stand jajanan tradisional, makanan khas daerah, aneka produk kerajinan, dan mainan anak-anak.
"Tentunya pentas seni campursari, tarian, srandul, kethoprak, jathilan, dan sebagainya akan menyemarakan hajatan ini," imbuh Tony.
Dwi Supriyatno,Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengatakan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo merupakan salah satu upacara adat yang masuk dalam kalender tahunan tetap dan gaungnya sudah menasional. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menggaet wisatawan dari berbagai daerah dan manca negara.
"Terlebih lagi agenda khas menarik berupa penyebaran apem atau kue tepung beras yang banyak ditunggu-tunggu wisatawan," kata Dwi.(BJ-33)
Tony Suryanto, ketua panitia mengatakan kirab mulai dari halaman masjid peninggalan Ki Ageng Wonolelo menuju Makam Ki Ageng Wonolelo oleh sesepuh trah, putro wayah, santri, alim ulama, prajurit dan berbagai kelompok kesenian. "Setelah itu dilanjutkan dengan penyebaran apem kepada pengunjung sebanyak satu ton," katanya.
Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang linuwih, ia pernah diutus oleh Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Ia pun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.
Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya. Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi ia banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka atau jimat dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.
Tony mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo adalah untuk mendukung Yogyakarta dan khususnya Sleman sebagai daerah tujuan wisata. " Serta mengajak generasi muda untuk menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung dan memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri," papar Tony.
Hajatan itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama aktivitas kegiatan berlangsung. Menurut Tony, pelaksanaan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo akan diawali dengan Pengajian Akbar sebagai syiar agama Islam dan sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam yang gigih.
Disamping pengajian akbar juga diselenggarakan pasar budaya dan pasar malam mulai 23 Januari hingga 7 Februari 2009 yang menampilkan suasana tradisional berupa stand-stand jajanan tradisional, makanan khas daerah, aneka produk kerajinan, dan mainan anak-anak.
"Tentunya pentas seni campursari, tarian, srandul, kethoprak, jathilan, dan sebagainya akan menyemarakan hajatan ini," imbuh Tony.
Dwi Supriyatno,Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengatakan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo merupakan salah satu upacara adat yang masuk dalam kalender tahunan tetap dan gaungnya sudah menasional. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menggaet wisatawan dari berbagai daerah dan manca negara.
"Terlebih lagi agenda khas menarik berupa penyebaran apem atau kue tepung beras yang banyak ditunggu-tunggu wisatawan," kata Dwi.(BJ-33)
Komentar
Belum ada Komentar






