SLEMAN_Masyarakat Dusun Pondok Wonolelo siap gelar Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo. Puncak acara ini akan digelar pada siang hari Jum’at 14 Januari 2011 mulai pukul 13.00 WIB di Balai Desa Widodomartani Ngemplak Sleman.
Menurut Tony Suryanto Purwanto, ketua panitia, mengungkapkan, Puncak acara upacara adat Ki Ageng Wonolelo pada tahun-tahun sebelumnya dilaksdanakan pada malam hari, namun mulai tahun ini dan tahun-tahun mendatang akan dilaksanakan pada siang hari.
Prosesi upacara adat saparan diawali dengan pengajian akbar sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam. Dalam prosesi kirab pusaka ditampilkan semua pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo, diantaranya kitab Suci Al Qur’an, Baju Onto Kusuma, Kopyah, Bongkahan Mustoko Masjid dan tongkat yang dimulai dari halaman Balai Desa Widodomartani menuju Makam Ki Ageng Wonolelo.
“Kirab pusaka juga diiringi oleh Bregada Ganggeng Samodra, Bregada Muspika Kecamatan Ngemplak, Putri Bhayangkari, Putri Domas, Para santri dan alim ulama, gunungan apem, sesaji, bregada Ki Ageng Wonolelo dan bregada ungel-ungelan.” tambah Tony.
Selesai prosesi kirab pusaka dilanjutkan dengan penyebaran apem seberat 1 (satu) ton sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas karunia Tuhan YME yang berupa rizqi, kesehatan, keselamatan dan ketenteraman. Apem yang disebarkan sebagai simbolisme sodaqoh untuk diperebutkan oleh pengunjung yang dianggap dapat mendatangkan keberkahan hidup
Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang linuwih, ia pernah diutus oleh Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Iapun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya. Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi ia banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka atau jimat dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.
Ketua Panitia Tony Suryanto Purwanto menambahkan bahwa maksud dan tujuan diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo adalah untuk mendukung Yogyakarta dan khususnya Sleman sebagai daerah tujuan wisata, mengajak generasi muda untuk menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung dan memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri. Disamping itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama aktivitas kegiatan berlangsung.
Menurutnya, pelaksanaan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo telah diawali dengan Pengajian Akbar pada tanggal 30 Desember 2010 silam dengan pembicara Kyai Suyanto, S.Ag, MSi. Pengajian tersebut sebagai syiar agama Islam dan sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam yang gigih. Disamping pengajian akbar juga diselenggarakan pasar malam mulai 31 Desember 2010 hingga 15 Janurai 2011, yang menampilkan berbagai stand jajanan tradisional, makanan khas daerah, aneka produk kerajinan, mainan anak-anak, dsb serta pentas seni diantaranya dangdut, jathilan, topeng ireng dsb. (DN)